Makna
sikap beragama memiliki arti yang sangat luas dan bermuara ke arah hal-hal yang
mulia sebagai perwujudan manusia sebagai mahluk ciptaan-NYA.
Sikap beragama merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap
perilaku anak dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat
fitrah menuju manusia yang seutuhnya.
Sikap
beragama merupakan suatu hal yang sangat penting yang diperlukan, karena
spiritual adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, moral dan rasa memiliki,
memberi arah dan arti pada kehidupan.
Sikap
beragama merupakan suatu kepercayaan akan adanya kekuatan nonfisik yang lebih
besar daripada kekuatan diri manusia dan suatu kesadaran yang menghubungkan
manusia langsung kepada sang maha penciptaHal ini dapat dimengerti anak dengan
adanya rasa kagum atas ciptaan Allah dan gejala alam yang dapat dirasakan dan
dialaminya, seperti adanya angin, hujan, matahari yang selalu terbit dan
terbenam.
Pendidikan
agama mempunyai suatu landasan pokok, yaitu penanaman iman pada diri anak
sebagai bekal kehidupannya di masa yang akan datang. Tugas utama dari orang
tua/ orang dewasa terhadap anak dalam menanamkan keimanan kepada anak perlu
berhati-hati baik dalam contoh hiasan, tulisan maupun perbuatan. Penanaman
kemampuan pada anak-anak bertujuan agar dalam jiwa anak berangsur-angsur
tertanam perasaan cinta kepada Tuhan dan agama.
Agama
merupakan pondasi awal untuk menanamkan rasa keimanan pada diri anak. Dalam agama
terdapat dua unsur yang sangat penting yaitu keyakinan dan tata cara yang mana
kedua unsur ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Pada
usia 0-2 tahun, merupakan masa ketergantungan terhadap orang tua, anak-anak
kecil memperoleh tingkah lakunya hampir seluruhnya mel.alui pola peniruan.
Walaupun anak kecil itu tidak mengerti arti perbuatan tersebut, ia menirukan
apa yang dilihatnya dan belajar menentukan pola hidupnya untuk yang baik atau
yang buruk. Konsepsi anak kecil tentang Allah sebagian besar ditentukan oleh
konsep dan sikap orang tua terhadap Allah.
Anak
yang berumur 2-3 tahun dapat mengerti bahwa Al-Kitab datangnya dari Allah,
Yesus adalah anak Allah, Gereja adalah rumah Allah, dan Allah mencintai dan
memelihara dia. Oleh karena ingatan mereka belum dapat diandalkan dan
perbendaharaan katanya terbatas maka konsepsi harus diajarkan berulang-ulang
dengan berbagai cara. Anak balita menyukai pengalaman ini.
Cerita-cerita
Al-Kitab harus selalu disebut sebagai kebenaran dan diajarkan dari Al-Kitab
yang terbuka. Anak balita meniru orang tuanya, guru, dan kakaknya. Mungkin ia
tidak mengerti maksud tindakan-tindakan tersebut, tetapi ia meniru apa yang
dilihat dan akhirnya hidupnya ikut teladan orang-orang yang ditirunya, hal ini
sering kali menyangkut perasaan anak kepada Tuhannya.
Pada
usia 4-6 tahun, anak dapat belajar mencintai Allah sebagaimana ia belajar
mencintai orang-orang dalam rumahnya. Mungkin ia tidak mengerti sepenuhnya
tentang Allah sebagai Pencipta atau Yang Maha Tinggi, tetapi ia dapat merasakan
rasa terima kasih, cinta, dan penghormatan serta mengungkapkan
perasaan-perasaan itu. Pujian dan do’a anak usia ini harus diutarakan dalam
kata-kata yang dapat dimengerti dan hendaknya mengungkapkan perasaannya
sendiri.
Hidup
do’anya itu hendaknya menuntun dia untuk menaikkan ucapan syukur maupun
permintaan do’a kepada bapa di surga. Dengan mudah guru dapat mempengaruhi anak
pada usia ini. Ia percaya segala sesuatu yang diucapkan kepadanya. Ia pun perlu
menyadari pengetahuan orang tua dan guru terbatas juga walaupun mereka telah
hidup lebih lama dari dia.
Usia
6-8 tahun, kemampuan anak untuk mengenal Allah bertambah ketika dunia
lingkungannya bertambah luas dan pengalamannya bertambah banyak. Anak
memperoleh manfaat bila ia beribadah sesuai dengan tingkat pengertiannya
sendiri dalam kebaktian sekolah minggu, kebaktian anak-anak, dan pecan rohani
anak. Anak usia ini senang mendengar cerita.
Akan
tetapi, karena hidup ini sekarang menjadi kenyataan maka setelah mendengar
cerita itu ia akan bertanya, ”Apa itu sesungguhnya benar?”. Cerita sinterklas
dan lain sebagainya dipertanyakan dan kemudian ditolak karena cerita-cerita
Al-Kitab diceritakan dan dibumbui hal-hal yang tidak benar, maka cerita-cerita
itu pun akan ditolaknya. Berdusta pada usia 8 tahun dianggap lebih serius
daripada berkata bohong pada usia 4 tahun.
Nilai
keagamaan yg dikenalkan pada anak usia 4-6 tahun, adalah Kedamaian ,
Kebahagiaan, dan Mencintai mahluk ciptaan Tuhan. Pengembangan nilai agama pada
anak usia dini dapat dilakukan melaui pemodelan (modelling), anak
belajar melalui imitasi. Bermain Peran (role playing), yaitu menciptakan
suatu situasi dimana individu diminta untuk melakukan suatu peran tertentu
(yang biasanya bukan peran dirinya) di suatu tempat yang tidak lazim peran
tersebut terjadi.
Manfaat
dari role playing adalah membantu seseorang mengubah sikap atau
perilakunya dari yang selama ini dilakukan. Simulasi (simulation) adalah
kegiatan yang dilakukan untuk menggambarkan suatu situasi atau perilaku yang
sebenarnya. Balikan Penampilan (performance feedback) adalah informasi
yang menggambarkan seberapa jauh hasil yang diperoleh dari role playing,
bentuknya dapat berupa reward, reinforcement, kritik dan dorongan.
0 Response to "Perkembangan Sikap Beragama Anak 4-6 Tahun "
Post a Comment